Selasa, 20 November 2012

Disfungsi Seksual


Disfungsi Seksualitas

1. Definisi Disfungsi Seksual
Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja siklus respon seksual.
Siklus respon seksual (Kolodny, Master, Johnson, 1979),terdapat beberapa fase,yaitu :
1) Fase Perangsangan (Excitement Phase)
Perangsangan terjadi sebagai hasil dari pacuan yang dapat berbentuk fisik atau psikis. Kadang fase perangsangan ini berlangsung singkat, segera masuk ke fase plateau. pada saat yang lain terjadi lambat dan berlangsung bertahap memerlukan waktu yang lebih lama.Pemacu dapat berasal dari rangsangan erotik maupun non erotik, seperti  pandangan, suara, bau, lamunan, pikiran, dan mimpi.
2) Fase Plateau
Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan untuk terjadinya orgasme.
3) Fase Orgasme
Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah terjadi fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.
4) Fase Resolusi
Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat kelamin dan luar alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke keadaan asal.
Sehingga adanya hambatan atau gangguan pada salah satu siklus respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual.
2. Etiologi Disfungsi Seksual
Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria ataupun wanita, etiologi disfungsi seksual dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a) Faktor fisik
Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagian-bagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai tingkat (Tobing, 2006).
Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak diketahui gejalanya dari luar. Makin tua usia makin banyak orang yang gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing, 2006). Kadang-kadang penderita merasakannya sebagai gangguan ringan yang tidak perlu diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond Rosen., et al, 1998).
Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut:
1.      Gangguan vaskuler pembuluh darah, misalnya gangguan arteri koronaria.
2.      Penyakit sistemik, antara lain diabetes melitus, hipertensi (HTN), hiperlipidemia (kelebihan lemak darah).
3.      Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke, multiple sklerosis.
4.      Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan kerusakan saraf.
5.      Gangguan hormonal, menurunnya testosteron dalam darah (hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia.
6.      Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis bengkok).
7.      Faktor lain seperti prostatektomi, merokok, alkohol, dan obesitas.
Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual, antara lain: barbiturat, benzodiazepin, selective serotonin seuptake inhibitors (SSRI), lithium, tricyclic antidepressant (Tobing, 2006).
b) Faktor psikis
Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi, anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual. Pada orang yang masih muda, sebagian besar disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. Kondisi fisik terutama organ-organnya masih kuat dan normal sehingga jarang sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing, 2006).
Tetapi apapun etiologinya, penderita akan mengalami problema psikis, yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya. Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual pada wanita juga ( Abdelmassih, 1992, Basson, R, et al., 2000).
Masalah psikis meliputi perasaan bersalah, trauma hubungan seksual, kurangnya pengetahuan tentang seks, dan keluarga tidak harmonis (Susilo, 1994, Pangkahila, 2001, 2006, Richard, 1992).

3. Macam-Macam Disfungsi Seksual
a) Gangguan Dorongan Seksual (GDS)
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi GDS (Pangkahila, 2007), berupa:
a.       Dorongan seksual hipoaktif
The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi definisi dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal.
b.      Gangguan eversi seksual
Timbul perasaaan takut pada semua bentuk aktivitas seksual sehingga menimbulkan gangguan.
Penyebab dan manifestasi:
Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami dorongan seksual hipoaktif. Pada usia 40-60 tahun, dorongan seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis, antara lain adalah kejemuan, perasaan bersalah, stres yang berkepanjangan, dan pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila, 2006).
b) Gangguan ereksi/Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik (Pangkahila, 2007).
Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang cukup unutuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan hubungan seksual, tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya (Pangkahila, 2006).
Penyebab dan manifestasi:
Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal, faktor vaskulogenik, faktor neurogenik, dan faktor iatrogenik (Pangkahila, 2007).
Faktor psikis meliputi semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang diterima. Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik, faktor psikis hampir selalu muncul dan menyertainya (Pangkahila, 2007).
c) Gangguan ejakulasi (Pangkahila, 2007)
Gangguan ejekulasi dibagi menjadi 2,yaitu ejekulasi dini dan ejekulasi lambat
1.   Ejekulasi Dini
Ejekulasi Dini merupakan ketidakmampuan mengontrol ejakulasi sampai pasangannnya mencapai orgasme, paling sedikit 50 persen dari kesempatan melakukan hubungan seksual. Berdasarkan waktu, ada yang mengatakan penis yang mengalami ED bila ejakulasi terjadi dalam waktu kurang dari 1-10 menit.
Untuk menentukan seorang pria mengalami ED harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : ejakulasi terjadi dalam waktu cepat, tidak dapat dikontrol, tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, serta mengganggu yang bersangkutan dan atau pasangannya (Pangkahila, 2007).
Penyebab dan manifestasi:
ED merupakan disfungsi seksual terbanyak yang dijumpai di klinik, melampaui DE. Survei epidemiologi di AS menunjukkan sekitar 30 persen pria mengalami ED.
Ada beberapa teori penyebab ED, yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyebab psikis dan penyebab fisik. Penyebab fisik berkaitan dengan serotonin. Pria dengan 5-HT rendah mempunyai ejaculatory threshold yang rendah sehingga cepat mengalami ejakulasi. Penyebab psikis ialah kebiasaan ingin mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sehingga terjadinya ED (Pangkahila, 2006).
2. Ejakulasi terhambat
Berlawanan dengan ED, maka pria yang mengalami ejakulasi terhambat (ET) justru tidak dapat mengalami ejakulasi di dalam vagina. Tetapi pada umumnya pria dengan ET dapat mengalami ejakulasi dengan cara lain, misalnya masturbasi dan oral seks, tetapi sebagian tetap tidak dapat mencapai ejakulasi dengan cara apapun.
Penyebab dan manifestasi:
Dalam 10 tahun terakhir ini hanya 4 pasien datang dengan keluhan ET. Sebagian besar ET disebabkan oleh faktor psikis, misalnya fanatisme agama sejak masa kecil yang menganggap kelamin wanita adalah sesuatu yang kotor, takut terjadi kehamilan, dan trauma psikoseksual yang pernah dialami.
d) Disfungsi orgasme (Pangkahila, 2007)
Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual.
Penyebab dan manifestasi:
Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan lumbal sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan, perasaan takut menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan. Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi, tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan.
e) Dispareunia (Pangkahila, 2007)
Dispareunia berarti hubungan seksual yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin atau sekitar kelamin.
Penyebab dan manifestasi
Salah satu penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual yang terasa sakit itu. Pada pria,  dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi pada penis, buah pelir, saluran kencing, atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya.
4. Terapi dan Pengobatan Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat dapat mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup, oleh karena itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah.
Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah sebagai berikut (Susilo, 1994; Pangkahila, 2001; Richardson, 1991):
1.      Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
2.      Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
3.      Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
4.      Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).
Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi hanya sedikit yang peduli (Philips, 2000).
Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah (Barry, Hodges, 1987).
Penyakit Penyimpangan Seksualitas
Ada beberapa penyebab penyimpangan seksualitas,Menurut Waskito (1993:29) penyebab penyimpangan seks pada remaja disebabkan oleh :
1)      Faktor intern:
·         Kelainan fisik sejak lahir
·         Kelainan pengaruh obat
·         Problem emosional
2)      Faktor ekstern:
·         Lingkungan keluarga
·         Lingkungan sosial
·         Lingkungan sekolah

Ada beberapa penyakit kelamin yang disebabkan oleh penyimpangan seksualitas,misalnya seseorang berganti-ganti pasangan, terlibat pelacuran dan homoseksual. Penyakit tersebut antara lain :
1)      Gonorea (kencing nanah)
Salah satu penyakit PMS (Penyakit Menular Seksual) yang menyerang selaput lendir pada beberapa organ seks an organ kemih, anus, rectum, selaput lendir mulut, mata dan beberapa organ lain. Penyebabnya adalah kuman Neisseria gonorrhoeae. Kadang-kadang kuman gonore ini masuk kedalam darah dan menyerang  sendi, khususnya sendi lutut. Penyakit ini dapat terjadi pada saat melakukan hubungan kelamin dengan penderita yang diikuti dengan rasa sakit pada waktu buang air kecil dan disertai keluarnya nanah. Pada anak yang usianya belum mencapai remaja, gonore menyerang selaput lendir vagina biasanya diperoleh dari orang tua mereka.
2)      Sifilis (penyakit raja singa)
Merupakan jenis penyakit yang ditularkan melalui kegiatan senggama yang haram. Tanda pertama sifilis adalah bintik-bintik merah yang muncul pada alat kelamin sepuluh hari sampai tiga bulan setelah ketularan penyakit ini. Penyebabnya adalah kuman Treponema palidium yang menyerang selaput lendir, termasuk anus, kemaluan serta mulut. Jika seorang wanita hamil menderita penyakit ini, maka kuman dapat menembus plasenta dan menyerang janin. Kalau tidak meninggal, kemungkinan besar bayinya akan lahir cacat. Selain melalui senggama, sifilis dapat ditularkan melalui pemakaian handuk basah milik orang berpenyakit sifilis atau kalau kita mengenakan pakaian mereka.
3)      Kanker kelamin
Adanya kanker di dalam rahim atau kelamin yang menyebabkan luka bernanah yang berkepanjangan, peradangan saluran kencing, rasa nyeri pada persendian dan pembengkakan pada kulit.
4)      AIDS (Aquired Immuno Defferency Syndrome)
Penyebab dari AIDS adalah sejenis virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Seseorang yang terkena virus ini disebut terinveksi HIV. Secara klinis, HIV bisa berkembang secara sporadis apabila masuk kedalam tubuh manusia melalui luka lecet yang kecil sekalipun. Kemudian, HIV menemukan sel-sel tubuh manusia yang cocok, seperti sel darah putih tipe limfosit-T (salah satu bentuk sel darah putih yang melumpuhkan kuman), sel makropagh (sel pemakan kuman), sel otak tertentu atau sel darah putih monosit. Virus yang masuk kedalam sel-sel tersebut akan berkembang biak dan berpotensi menginfeksi sel lain. Menurut penelitian, Pengidap HIV baru menjadi penderita AIDS secara klinis setelah masa inkubasi lima sampai sepuluh tahun. AIDS adalah penyakit yang menyengsarakan, baik fisik, mental maupun sosial. Penyakit ini dapat ditularkan diantaranya melalui hubungan seksual baik melalui vagina atau anus dengan seorang pria atau wanita yang menderita AIDS, melalui jarum suntik yang tercemar darah penderita AIDS, melalui transfusi darah terinfeksi, transplantasi organ tubuh dari seorang penderita AIDS, dari ibu pengidap HIV/AIDS kepada bayinya karena HIV dapat melalui sawar (barier) plasenta dan juga dapat terinfeksi melalui ASI. Secara sederhana untuk mengetahui apakah seseorang menderita penyakit AIDS, maka kita harus mewaspadai gejala-gejala AIDS berikut :
·         Terjadi penurunan ketahanan tubuh yang ditandai dengan seringnya sakit berat atau suatu penyakit yang biasanya ringan tetapi lama pulihnya
·         Menurunnya berat badan setiap bulan secara terus-menerus
·         Terdapat penyakit yang biasanya mudah disembuhkan menjadi sulit disembuhkan, seperti radang paru-paru atau eksema
·         Terdapat bercak-bercak merah coklat yang merata di seluruh tubuh yang sulit menghilang
·         Terjadi pembesaran kalenjar getah bening di seluruh tubuh.
·         Sejak ditemukannya kasus AIDS di Amerika Serikat paad 1981, penyakit ini selalu menarik perhatian dunia kedokteran ataupun masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa AIDS telah menyebabkan angka kematian yang tinggi, jumlah penderita yang meningkat dalam waktu singkat dan belum adanya penanggulangan secara tuntas karena obat yang efektif belum ditemukan.

ASKEP FEBRIS



A.     PENGERTIAN

Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali (Mansjoer, 2001, hal 406).
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125).
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium (Harijanto, 2000, hal 1).
Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh Parasit Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000).
Malaria adalah suatu penyakit akut dan bisa menjadi kronik, disebabkan protozoa yang hidup intra sel, genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia, dan splenomegali.

B.     ETIOLOGI
Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan infeksi yaitu:
·         Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana/ vivaks (demam pada tiap hari ke tiga)
·         Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam)
·         Plasmodium malariae, jarang ditemukan dan menyebabkan malaria quartana/malariae (demam tiap hari empat)
·         Plasmodium ovale, dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, diIndonesia dijumpai di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang paling ringan dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale.
Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung pada daya tahan tubuh dan spesies plasmodiumnya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14-17 hari, Plasmodium ovale 11-16 hari, Plasmodium malariae 12-14 hari dan Plasmodium falciparum 10-12 hari (Mansjoer, 2001).

C.     PATOFISIOLOGI
Patofisiologi pada malaria masih belum diketahui dengan pasti. Berbagai macam teori dan hipotesis telah dikemukakan. Perubahan patofisiologi pada malaria terutama mungkin berhubungan dengan gangguan aliran darah setempat sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung parasit pada endothelium kapiler. Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang dapat tetap hidup. Peran beberapa mediator humoral masih belum pasti, tetapi mungkin terlibat dalam patogenesis demam dan peradangan. Skizogoni ekso eritrositik mungkin dapat menyebabkan reaksi leukosit dan fagosit, sedangkan sprozoit dan gametosit tidak menimbulkan perubahan patofisiologik.
Patofisiologi malaria adalah multifaktoral dan mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut penghancuran eritrosit. Eritrosit dihancurkan tidak saja oleh pecahnya eritrosit yang mengandung parasit, tetapi juga oleh fagositosis eritrosis yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intravaskular yang berat dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat mengakibatkan gagal ginjal. Mediator endotoksin makrofag.
Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang rupanya menyebabkan perubahan patofisiologi yang berhubungan dengan malaria. Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria, mungkin asalnya dari rongga saluran pencernaan dan parasit malaria sendiri dapat melepaskan faktor nekrosis tumor (TNF). TNF adalah suatu monokin, ditemukan dalam peredaran darah manusia dan hewan yang terinfeksi parasit malaria. TNF dan sitokin lain yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglikemia dan sindrom penyakit pernafasan pada orang dewasa (ARDS = Adult Respiratory Disease Sindrom) dengan sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. TNF dapat juga menghancurkan P. falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi parasit pada endothelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia, hiperparasitemia dan beratnya penyakit.
Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi. Eritrosit yang terinfeksi dengan stadium lanjut P. falciparum dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung P. falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam organ tubuh, sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi organ tubuh, bukan di sirkulasi perifer.
Eritrosit yang terinfeksi menempel pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler dalam organ tubuh.
Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi lebih permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan. Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian. Protein kaya histidin P. falciparum ditemukan pada tonjolan-tonjolan tersebut.
Sporozoit
Masuk jaringan                                      TNF meningkat konsentrasi Interleukin

Membelah menjadi                                          Stimulus zat
merozoit                                                          pirogen

Infeksi organ lain
à Masuk sirkulasi   Hipothalamus mencapai setpoint

                       resiko tinggi infeksi                         Invasi elektrolit
à panas tubuh meningkat

                                                                    Hipertermi
à Eritrosit lisis

                                                                                     anemia 
à  anoksia à  penurunan
  komponen seluler
            anoreksia                                                                                         pengirim O2 dan nutrisi
 

Perubahan  nutrisi kurang dari kebutuhan      kompensasi menggigil      perubahan perfusi jaringan                                           
                                                                        Penurunan suplai O2
                                                                        Berkeringat berlebih                                                                                               Kelelahan  àRasa haus positif

                                                                          Dehidrasi
                                                             Kekurangan vol. cairan

D.     MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum menurut Mansjoer (1999) antara lain sebagai berikut :
a.      Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporolasi). Pada Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan Malaria Kuartana (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di tandai dengan beberapa serangan demam periodik.
Gejala umum (gejala klasik) yaitu terjadinya “Trias Malaria” (malaria proxysm) secara berurutan :
1)      Periode dingin.
Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.
2)      Periode panas.
Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 40oC atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah, dapat terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak). Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat.
3)      Periode berkeringat.
Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah, temperatur turun, penderita merasa capai dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.

b.      Splenomegali
Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas Malaria Kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Corwin , 2000, hal. 571). Pembesaran limpa terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar sekitar 3 kali lipat. Lien dapat teraba di bawah arkus costa kiri, lekukan pada batas anterior. Pada batasan anteriornya merupakan gambaran pada palpasi yang membedakan jika lien membesar lebih lanjut. Lien akan terdorong ke bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa iliaca dekstra.

c.       Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time). Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang.

d.      Ikterus
Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat kelebihan bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah. Terdapat tiga jenis ikterus antara lain :


1)      Ikterus hemolitik
Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati dapat mengkonjugasikan semua bilirubin yang di hasilkan
2)      Ikterus hepatoseluler
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler.
3)      Ikterus Obstruktif
Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui duktus biliaris di sebut dengan ikterus obstuktif .

E.     KOMPLIKASI
Menurut Gandahusa, Ilahude dan Pribadi (2000) beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit malaria adalah :
a.       Malaria otak
Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi (80%) bila dibandingkan dengan penyakit malaria lainnya. Gejala klinisnya dimulai secara lambat atau setelah gejala permulaan. Sakit kepala dan rasa ngantuk disusul dengan gangguan kesadaran, kelainan saraf dan kejang-kejang bersifat fokal atau menyeluruh.
b.      Anemia berat
Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya hematokrit secara mendadak (<> 3 mg/ dl. Seringkali penyulit ini disertai edema paru. Angka kematian mencapai 50%. Gangguan ginjal diduga disebabkan adanya Anoksia, penurunan aliran darah keginjal, yang dikarenakan sumbatan kapiler, sebagai akibatnya terjadi penurunan filtrasi pada glomerulus.
c.       Edema paru
Komplikasi ini biasanya terjadi pada wanita hamil dan setelah melahirkan. Frekuensi pernapasan meningkat. Merupakan komplikasi yang berat yang menyebabkan kematian. Biasanya disebabkan oleh kelebihan cairan dan Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS).
d.      Hipoglikemia
Konsentrasi gula pada penderita turun.

F.      PEMERIKSAAN DIAOGNOSTIK
1.     Pemeriksaan mikroskopis malaria
Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) di dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-macam target dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan.
Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.
Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).
-          Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit.
-          Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis.
-          Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang tepat.
-          Identifikasi spesies plasmodium
-          Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.
a.       QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
b.      Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.
c.       Pemeriksaan imunoserologis
Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay.
d.      Pemeriksan Biomolekuler
Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.

G.    PENATALAKSANAAN
*      Penatalaksanaan Medis
Pengobatan malaria menurut keperluannya dibagi menjadi pencegahan bila obat diberikan sebelum infeksi terjadi, pengobatan supresif bila obat diberikan untuk mencegah timbulnya gejala klinis, pengobatan kuratif untuk pengobatan infeksi yang sudah terjadi terdiri dari serangan akut dan radikal, dan pengobatan untuk mencegah transmisi atau penularan bila obat digunakan terhadap gametosit dalam darah. Program pemberantasan malaria dikenal 3 cara pengobatan, yaitu :
1.      Pengobatan presumtif dengan pemberian skizontisida dosis tunggal untuk mengurangi gejala klinis malaria dan mencegah penyebaran.
2.      Pengobatan radikal diberikan untuk malaria yang menimbulkan relaps jangka panjang
3.      Pengobatan massal digunakan pada setiap penduduk di daerah endemis malaria secara teratur. Saat ini pengobatan massal hanya di berikan pada saat terjadi wabah.
Obat antimalaria terdiri dari 5 jenis, antara lain(11,15) :
ü  Skizontisid jaringan primer yang membasmi parasit pra-eritrosit, yaitu proguanil, pirimetamin
ü  Skizontisid jaringan sekunder yang membasmi parasit ekso-eritroit, yaitu primakuin
ü  Skizontisid darah yang membasmi parasit fase eritrosit, yaitu kina, klorokuin, dan amodiakuin
ü  Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual. Primakuin adalah gametosid yang ampuh bagi keempat spesies. Gametosid untuk P.vivax, P.malaria, P.ovale, adalah kina, klorokuin, dan amidokuin
ü  Sporontosid mencegah gametosid dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoid dalam nyamuk anopheles, yaitu primakuin dan proguanil.
*      Terapi Non Farmakologi
The Center for disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan hal berikut untuk membantu mencegah merebaknya malaria;
·         semprotkan atau gunakan obat pembasmi nyamuk di sekitar tempat tidur
·         Gunakan pakaian yang bisa menutupi tubuh disaat senja sampai fajar
·         Atau bisa menggunkan kelambu di atas tempat tidur, untuk menghalangi nyamuk mendekat
·         Jangan biarkan air tergenang lama di got, bak mandi, bekas kaleng atautempat lain yang bisa menjadi sarang nyamuk










BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FEBRIS ( MALARIA )
A.     PENGKAJIAN
1.      Aktivitas/ istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan
Tanda : Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
2.      Sirkulasi
Tanda : Tekanan darah normal
Geala : -
3.      Eliminasi
Gejela : Tidak ada perubahan
Tanda : Distensi abdomen
4.      Makanan dan cairan
Gejala : Anoreksia, mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan masa otot
5.      Pernafasan
Tanda : reguler
Gejala : 18 x / menit
6.      Neuro Sensori
Tanda : pusing
Gejala : Gelisah
-          Identias klien
NO MRS         : 757-914
Inisial Klien     : Tn . H
Umur               : 20
Jenis Kelamin  : laki- laki
Pekerjaan         : Mahasiswa
Agama             : Islam
Alamat                        : Jln. Ayani, Sepakat II
Dx Medis        : febris ( malaria )
Tanggal           : 8 juni 2012






B.     ANALISA DATA
DATA
MASALAH
DS :
-          Px mengatakan makan 2 – 3 sendok setiap pagi
-          Px mengatakan sering mual dan muntah
DO :
-          Px tampak lemah
-          TD : 120/ 80 mmHg
DT :
-          BB ( sebelum dan sesudah )
-          TB
Nutrisi kurang dari kebuuhan
DS :
-           Px mengatakan nyeri di epigasrium
-          Px mengatakan nyeri di lumbal kanan
-          Px mengatakan sering mual dan muntah
DO:
-          Nadi : 84 x / m
-          Kulit berkeringat dan lembab
-          Perut : distensi ( + )
-          Saat di tekan abdomen px, wajah tampak meringis
-          Skala nyeri 7
Nyeri Abdomen

C.     DIAGNOSA PRIORITAS
1.      Nyeri Akut b/d Mual dan muntah
2.      Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan b/d anorexia

D.     INTERVENSI
1.      Nyeri Abdomen b/d mual dan muntah
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Nyeri Abdomen
Berhubungan dengan :
Mual dan muntah
DS :
-           Px mengatakan nyeri di epigasrium
-          Px mengatakan nyeri di lumbal kanan
-          Px mengatakan sering mual dan muntah
DO:
-          Nadi : 84 x / m
-          Kulit berkeringat dan lembab
-          Perut : distensi ( + )
-          Saat di tekan abdomen px, wajah tampak meringis
-          Skala nyeri 7
NOC :
v Pain Level,
v pain control,
v comfort level
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
·  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
·  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
·  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
·  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
·  Tanda vital dalam rentang normal
·  Tidak mengalami gangguan tidur



NIC :
§ Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§ Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§ Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§ Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
§ Kurangi faktor presipitasi nyeri
§ Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§ Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
§ Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ……...
§ Tingkatkan istirahat
§ Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
§ Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali














2.      Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan b/d Anorexia
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan :
Tidak adanya nafsu untuk menelan makanan ( anorexia ).
DS:
-          Px mengatakan makan 2 – 3 sendok setiap pagi
-          Px mengatakan sering mual dan muntah

DO:
-            Px tampak lemah
-          TD : 120/ 80 mmHg
DT :
-          BB ( sebelum dan sesudah )
-          TB
NOC:
a.    Nutritional status: Adequacy of nutrient
b.    Nutritional Status : food and Fluid Intake
c.    Weight Control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….nutrisi kurang teratasi dengan indikator:
v  Albumin serum
v  Pre albumin serum
v  Hematokrit
v  Hemoglobin
v  Total iron binding capacity
v  Jumlah limfosit
§ Kaji adanya alergi makanan
§ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
§ Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
§ Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
§ Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
§ Monitor lingkungan selama makan
§ Jadwalkan pengobatan  dan tindakan tidak selama jam makan
§ Monitor turgor kulit
§ Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
§ Monitor mual dan muntah
§ Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
§ Monitor intake nuntrisi
§ Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi
§ Anjurkan banyak minum


E.     EVALUASI
NO

EVALUASI
1. Nyeri Akut
Berhubungan dengan :
Mual dan muntah

S  :
-          Klien masih mengatakan mual dan muntah
-          Px  mengeluh  nyeri di epigastrium dan lumbal kanan.

O :
-          Px tampak meringis saat palpasi abdomen
-          Perut distensi (+)
-          Skala nyeri 7
-          Nadi 84x/menit
-          Klit berkeringat dan lembab
A :
-          Masalah belum teratasi
P  :
-          Lanjutkan intervensi 1, 2, 5, 6 dan 7
2.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan :
Tidak adanya nafsu untuk menelan makanan ( anorexia ).

-           
S :                
-          Px mengatakan tidak nafsu makan (2-3 sendok pada pagi hari)
-          Klien masih mengeluh mual dan muntah
O :
-          Px tampak lemah
-          TD 120/80 mmHg
-          Suhu 37,5 C
A :
-          Masalah belum teratasi
P :
-          Lanjut intervensi 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13 dan 14.